Observasi : Abrasi Pantai Pulau Cangkir dan Pantai Utara Kab. Tangerang sebagai Dampak Pembangunan Wisata Bahari dan Pembukaan Tambak

Posted: 23 April, 2010 in 1

Pantai Timur Pulo Cangkir

Download format Word

Latar Belakang

Pariwisata Indonesia akhir-akhir ini semakin pesat dipromosikan, karena memang kekayaan alam Indonesia sangat memikat dan menarik pelancong, baik pelancong domestik maupun mancanegara. Begitu pula yang terjadi di Kabupaten Tangerang yang merupakan daerah yang memiliki garis pantai sepanjang 51 km, pemda setempat pun kian marak mengembangkan daerah wisata bahari di Tangerang bagian utara. Dalam Instruksi Gubernur Banten nomor 1 tahun 2006 tentang kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata propinsi Banten, menginstruksikan kepada kepala daerah untuk membangun dan mempromosikan tujuan wisata yang ada didaerah masing-masing, dan kepada dinas kelautan dan perikanan untuk mendukung pengembangan wisata bahari dengan menyediakan informasi wisata kebaharian dan dalam mengelola serta mengawasi kelestarian taman laut nasional. Daerah Tangerang bagian utara memang dijadika pusat wisata, perikanan, dan peternakan. Pengembangan pariwasata bahari di Tangerang meliputi Muara Sungai Cidurian (Kronjo),  Pulau Cangkir (Kronjo), Pantai Sanglira Karang Serang (Sukadiri), Tanjung Kait (Mauk), dan Tanjung Pasir (Teluk Naga). Perkembangan wisata tersebut dapat memberikan dampak yang baik terutama dalam meningkatkan perekonomian daerah dan membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar. Namun juga berdampak negative terutama kerusakan lingkungan dan perubahan keseimbangan ekosisitem yang dapat memicu percepatan abrasi pantai.

Abrasi Pantai memang terjadi akibat gelombang air laut yang tidak bisa kita kendalikan namun ketidakadaan perlindungan pada pantai yang sebetulnya jadi penyebab abrasi pantai.  Pembukaan tempat wisata mengundang orang melancong dan membangun tempat peristirahatan (warung, kios souvenir, dll) seringkali pembangunan tersebut mengorbankan pohon-pohon bakau dan menggerus bantalan bibir pantai serta pembuangan limbah yang merusak kualitas ekosistem. Selain itu pembukaan usaha pertanian ikan dengan menggunakan tambak serta penambangan pasir illegal memperparah keadaan tersebut.

Permasalahan

Abrasi pantai dapat memberikan permasalahan yang sangat besar bagi kita, terlebih jika tingkat abrasi sudah parah, dikutip dari kompas (11/11/08) yang menyatakan bahwa tingkat abrasi (pengikisan) Pantai Tangerang hingga kini mencapai 51 persen dari total keseluruhan, yaitu 51 kilometer. Hal ini disebabkan oleh arus pantai yang cukup deras, tanggul penahan air yang lemah, kurangnya lahan hutan bakau, serta sisa-sisa eksplorasi pasir laut liar yang terjadi sekitar 3-5 tahun lalu. Dengan pembangunan tempat wisata yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan akan memperparah abrasi pantai tersebut, tempat wisata di Pulau Cangkir misalnya terjadi penyusutan luas pulau tersebut, di tempat wisata Pantai Sanglira Karangserang merupakan lokasi yang paling parah terkena dampak abrasi, tempat tersebut memang jarang sekali vegetasi dan ditambah adanya penambangan pasir. Menurut data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Tangerang yang dikutip dari pada tahun 2001, abrasi di Karangserang sudah mencapai 3 kilometer sepanjang tepi pantai. Kejadian serupa juga terjadi di Kampung Garapan, Dusun Bakau Tinggi, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Namun di kawasan ini, abrasi terjadi karena pembabatan hutan mangrove (bakau) untuk dijadikan tambak. Menurut pengamatan, abrasi pantai terjadi sepanjang satu kilometer, apalagi ombak besar telah menelan 20-100 meter pantai di Kampung Garapan. Banyak rumah penduduk yang akhirnya harus dipindahkan. Kampung Garapan sendiri sekarang dihuni oleh 390 kepala keluarga. Seperti yang dilaporkan Koran Jakarta (12/11/09) aneka tumbuhan seperti pohon kelapa dan tanaman pelindung lainnya tumbang dan hanyut terbawa ombak karena lahan sekitar terus-menerus dihantam gelombang. Demikian pula gedung SDN Tanjung Kait, Mauk, terancam rubuh karena dinding kelas sudah mulai dekat dengan bibir pantai, padahal ketika dibangun jaraknya relatif jauh dari pantai dan dianggap aman dari ganasnya ombak. Akibat abrasi, sebuah lapangan sepakbola di Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri hilang ditelan air.

Menurut Uyus Setia Bhakti pemerhati lingkungan dari Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH) Tangerang yang dikutip dalam Koran Jakarta (12/11/09) mengatakan, masalah abrasi harus serius ditanggapi pemerintah daerah, bila tidak maka banyak daratan akan berubah menjadi laut.

Tujuan Observasi

Adapun tujuan dari dilakukannya observasi ini adalah menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadi percepatan abrasi di Pantai Pulau Cangkir dan Pantai Utara Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang terkait dengan pembangunan wisata bahari didaerah tersebut.

Lokasi

Pengamatan dilakukan secara langsung di Pantai Pulau Cangkir dan sekitar pantai utara Kab. Tangerang  terutama di kawasan wisata bahari yang diperkirakan daerah tersebut mendapatkan imbas dari kegiatan manusia dan pembangunan wisata. Pemilihan lokasi pantai Kecamatan Kronjo mempertimbangkan akses transportasi, karena ada garis pantai yang tidak dapat dijangkau dengan alat transportasi, sehingga daerah tersebut terbilang kurang mengalami dampak kerusakan aktivitas manusia.

Metode

Observasi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung ditempat yang telah ditentukan yakni tempat wisata Pulau Cangkir dan sekitar Pantai Utara Tangerang serta mengumpulkan data dan fakta dari berbagai media. Dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif yaitu hanya menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi dan situasi yang kami lihat secara langsung. Kami pun mencari informasi dengan cara mewawancarai dengan warga masyarakat yang kami temui saat observasi.

Analisis

Setelah kami melakukan observasi di Pulau Cangkir, kami mengamati terjadi banyak kerusakan, terutama kerusakan vegetasi banyak tanaman bakau-bakauan, pohon kelapa, ki hujan dan tanaman besar. Pantai bagian utara merupakan daerah yang paling besar menerima deras ombak, namun karena profil pantai yang berbatu sehingga kurang begitu berdampak. Berbeda pada pantai bagian barat dan timur pulau sangat menghawatirkan sekali, menurut warga setempat semula vegetasi dibagian ini rapat sekali dan pembangunan rumah penduduk tidak begitu banyak. Pada daerah ini profil pantai bertanah dan berpasir, tanah tersebut sangat lemah untuk menahan gelombang. Kami melihat tidak ada satu pun pohon bakau disekeliling pantai, yang bersisa hanya pohon kelapa itu pun sudah banyak yang mati. Kerusakan vegetasi yaitu disebabkan  pembangunan rumah dan warung oleh penduduk setempat dan penduduk pendatang mengingat pulau ini merupakan kawasan wisata bahari dan wisata ziarah makam ulama keturunan  Sultan Banten. Abrasi pantai di pulau ini menyebabkan penyusutan luas, kami perkirakan tidak lebih dari 50×100 meter persegi. Kami perhatikan ada sekitar lima rumah dan  warung semipermanen yang roboh akibat abrasi dan terjangan gelombang tinggi.

Begitu pula abrasi di pantai utara Tangerang terutama di Kecamatan Mauk, Kecamatan Sukadiri dan Kecamatan Kronjo. Pembukaan tempat wisata didaeah tersebut mengesampingkan aspek pelestarian lingkungan dan nilai ekologis, penggundulan hutan mangrove didaerah ini sangat parah dan hampir tidak tersisa. Selain pembukaan tempat wisata, yang merupakan faktor terbesar juga yaitu pembukaan tambak untuk pengembangan budidaya ikan dan udang. Kami mengamati di pantai Kecamatan Mauk didaerah tersebut sudah tidak ada hutan mangrove dan berganti dengan tambak ikan, pembukaan tambak yang sangat berhimpit dengan garis pantai inilah yang paling besar menimbulkan abrasi pantai, ketika gelombang laut menghantam, pembatas antara tambak dan garis pantai sangat berpotensi rusak mengingat pembatas tersebut hanya tanah berpasir dan sedikit batuan. Pada saat pembatas ini hilang maka tambak akan bergabung dengan lautan sehingga daratan berkurang dengan begitu cepat dan menyapu luasan yang besar pula. Keadaan ini pula yang menimpa garis pantai di Desa Kronjo Kecamatan Kronjo, kami mengamati tambak yang sudah menyatu dengan lautan, sekitar 3 tahun yang lalu daerah itu memang merupakan hutan mangrove dan tambak yang relatif jauh dengan bibir pantai, namun karena tempat tersebut merupakan kawasan wisata, hutan mangrove beralih fungsi menjadi pembangunan rumah dan warung, karena terus menerus diterjang gelombang air laut yang dipicu oleh angin dan lalu lintas kapal nelayan, mengakibatkan rumah dan warung tersebut hancur dan semakin menipiskan batas antara laut dan tambak, dan kini batas itu sudah tenggelam dan menjadi lautan dangkal.

Berbeda dengan kawasan wisata di Pantai Sanglira Karangserang, profil batuan pantai didaerah ini lebih lunak karena lebih didominasi oleh tanah liat sehingga sangat mudah diterjang ombak, ditambah dengan vegetasi mangrove yang jarang dan penambangan pasir liar yang dilakukan warga setempat menambah dampak parah terhadap abrasi pantai.

Pencegahan dan penanggulangan abrasi telah dilakukan oleh pemda setempat misalnya di Pantai Kronjo telah dilakukan dengan menanam pohon bakau disepanjang pantai dan muara sungai namun hasilnya tidak maksimal karena tidak serius dalam perawatan, kami melihat banyak bibit pohon mangrove dibiarkan begitu saja.

Kesimpulan

Kami menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan dan analisis bahwa tingkat abrasi pantai di Pantai Kabupaten Tangerang dan Pulau Cangkir sudah sangat parah, abrasi tersebut dikarenakan hantaman gelombang dan akibat kerusakan vegetasi mangrove, pembukaan tambak ikan dan udang, serta penambangan pasir secara liar.

Referensi

http://jalanasik.com/index.php?option=com_content&task=view&id=344&Itemid=36

http://tangerangutararaya.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

www.arsip.net/id/link.php?lh=AgRQAgEKAFRT

www.arsip.net/id/link.php?lh=BwQFDwYGVwRS

www.pelita.or.id/baca.php?id=83339

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s