Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H / 2010 M

Posted: 3 Agustus, 2010 in Tak Berkategori

Catatan :
Jadwal ini menurut Kementerian Agama Republik Indonesia
Penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1431 H menunggu Keputusan Menteri Agama RI

Moga Manfaat Shadam Al-Azizi (Ganjen Community)

Pantai Timur Pulo Cangkir

Download format Word

Latar Belakang

Pariwisata Indonesia akhir-akhir ini semakin pesat dipromosikan, karena memang kekayaan alam Indonesia sangat memikat dan menarik pelancong, baik pelancong domestik maupun mancanegara. Begitu pula yang terjadi di Kabupaten Tangerang yang merupakan daerah yang memiliki garis pantai sepanjang 51 km, pemda setempat pun kian marak mengembangkan daerah wisata bahari di Tangerang bagian utara. Dalam Instruksi Gubernur Banten nomor 1 tahun 2006 tentang kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata propinsi Banten, menginstruksikan kepada kepala daerah untuk membangun dan mempromosikan tujuan wisata yang ada didaerah masing-masing, dan kepada dinas kelautan dan perikanan untuk mendukung pengembangan wisata bahari dengan menyediakan informasi wisata kebaharian dan dalam mengelola serta mengawasi kelestarian taman laut nasional. Daerah Tangerang bagian utara memang dijadika pusat wisata, perikanan, dan peternakan. Pengembangan pariwasata bahari di Tangerang meliputi Muara Sungai Cidurian (Kronjo),  Pulau Cangkir (Kronjo), Pantai Sanglira Karang Serang (Sukadiri), Tanjung Kait (Mauk), dan Tanjung Pasir (Teluk Naga). Perkembangan wisata tersebut dapat memberikan dampak yang baik terutama dalam meningkatkan perekonomian daerah dan membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar. Namun juga berdampak negative terutama kerusakan lingkungan dan perubahan keseimbangan ekosisitem yang dapat memicu percepatan abrasi pantai.

Abrasi Pantai memang terjadi akibat gelombang air laut yang tidak bisa kita kendalikan namun ketidakadaan perlindungan pada pantai yang sebetulnya jadi penyebab abrasi pantai.  Pembukaan tempat wisata mengundang orang melancong dan membangun tempat peristirahatan (warung, kios souvenir, dll) seringkali pembangunan tersebut mengorbankan pohon-pohon bakau dan menggerus bantalan bibir pantai serta pembuangan limbah yang merusak kualitas ekosistem. Selain itu pembukaan usaha pertanian ikan dengan menggunakan tambak serta penambangan pasir illegal memperparah keadaan tersebut.

Permasalahan

Abrasi pantai dapat memberikan permasalahan yang sangat besar bagi kita, terlebih jika tingkat abrasi sudah parah, dikutip dari kompas (11/11/08) yang menyatakan bahwa tingkat abrasi (pengikisan) Pantai Tangerang hingga kini mencapai 51 persen dari total keseluruhan, yaitu 51 kilometer. Hal ini disebabkan oleh arus pantai yang cukup deras, tanggul penahan air yang lemah, kurangnya lahan hutan bakau, serta sisa-sisa eksplorasi pasir laut liar yang terjadi sekitar 3-5 tahun lalu. Dengan pembangunan tempat wisata yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan akan memperparah abrasi pantai tersebut, tempat wisata di Pulau Cangkir misalnya terjadi penyusutan luas pulau tersebut, di tempat wisata Pantai Sanglira Karangserang merupakan lokasi yang paling parah terkena dampak abrasi, tempat tersebut memang jarang sekali vegetasi dan ditambah adanya penambangan pasir. Menurut data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Tangerang yang dikutip dari pada tahun 2001, abrasi di Karangserang sudah mencapai 3 kilometer sepanjang tepi pantai. Kejadian serupa juga terjadi di Kampung Garapan, Dusun Bakau Tinggi, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Namun di kawasan ini, abrasi terjadi karena pembabatan hutan mangrove (bakau) untuk dijadikan tambak. Menurut pengamatan, abrasi pantai terjadi sepanjang satu kilometer, apalagi ombak besar telah menelan 20-100 meter pantai di Kampung Garapan. Banyak rumah penduduk yang akhirnya harus dipindahkan. Kampung Garapan sendiri sekarang dihuni oleh 390 kepala keluarga. Seperti yang dilaporkan Koran Jakarta (12/11/09) aneka tumbuhan seperti pohon kelapa dan tanaman pelindung lainnya tumbang dan hanyut terbawa ombak karena lahan sekitar terus-menerus dihantam gelombang. Demikian pula gedung SDN Tanjung Kait, Mauk, terancam rubuh karena dinding kelas sudah mulai dekat dengan bibir pantai, padahal ketika dibangun jaraknya relatif jauh dari pantai dan dianggap aman dari ganasnya ombak. Akibat abrasi, sebuah lapangan sepakbola di Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri hilang ditelan air.

Menurut Uyus Setia Bhakti pemerhati lingkungan dari Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH) Tangerang yang dikutip dalam Koran Jakarta (12/11/09) mengatakan, masalah abrasi harus serius ditanggapi pemerintah daerah, bila tidak maka banyak daratan akan berubah menjadi laut.

Tujuan Observasi

Adapun tujuan dari dilakukannya observasi ini adalah menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadi percepatan abrasi di Pantai Pulau Cangkir dan Pantai Utara Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang terkait dengan pembangunan wisata bahari didaerah tersebut.

Lokasi

Pengamatan dilakukan secara langsung di Pantai Pulau Cangkir dan sekitar pantai utara Kab. Tangerang  terutama di kawasan wisata bahari yang diperkirakan daerah tersebut mendapatkan imbas dari kegiatan manusia dan pembangunan wisata. Pemilihan lokasi pantai Kecamatan Kronjo mempertimbangkan akses transportasi, karena ada garis pantai yang tidak dapat dijangkau dengan alat transportasi, sehingga daerah tersebut terbilang kurang mengalami dampak kerusakan aktivitas manusia.

Metode

Observasi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung ditempat yang telah ditentukan yakni tempat wisata Pulau Cangkir dan sekitar Pantai Utara Tangerang serta mengumpulkan data dan fakta dari berbagai media. Dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif yaitu hanya menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi dan situasi yang kami lihat secara langsung. Kami pun mencari informasi dengan cara mewawancarai dengan warga masyarakat yang kami temui saat observasi.

Analisis

Setelah kami melakukan observasi di Pulau Cangkir, kami mengamati terjadi banyak kerusakan, terutama kerusakan vegetasi banyak tanaman bakau-bakauan, pohon kelapa, ki hujan dan tanaman besar. Pantai bagian utara merupakan daerah yang paling besar menerima deras ombak, namun karena profil pantai yang berbatu sehingga kurang begitu berdampak. Berbeda pada pantai bagian barat dan timur pulau sangat menghawatirkan sekali, menurut warga setempat semula vegetasi dibagian ini rapat sekali dan pembangunan rumah penduduk tidak begitu banyak. Pada daerah ini profil pantai bertanah dan berpasir, tanah tersebut sangat lemah untuk menahan gelombang. Kami melihat tidak ada satu pun pohon bakau disekeliling pantai, yang bersisa hanya pohon kelapa itu pun sudah banyak yang mati. Kerusakan vegetasi yaitu disebabkan  pembangunan rumah dan warung oleh penduduk setempat dan penduduk pendatang mengingat pulau ini merupakan kawasan wisata bahari dan wisata ziarah makam ulama keturunan  Sultan Banten. Abrasi pantai di pulau ini menyebabkan penyusutan luas, kami perkirakan tidak lebih dari 50×100 meter persegi. Kami perhatikan ada sekitar lima rumah dan  warung semipermanen yang roboh akibat abrasi dan terjangan gelombang tinggi.

Begitu pula abrasi di pantai utara Tangerang terutama di Kecamatan Mauk, Kecamatan Sukadiri dan Kecamatan Kronjo. Pembukaan tempat wisata didaeah tersebut mengesampingkan aspek pelestarian lingkungan dan nilai ekologis, penggundulan hutan mangrove didaerah ini sangat parah dan hampir tidak tersisa. Selain pembukaan tempat wisata, yang merupakan faktor terbesar juga yaitu pembukaan tambak untuk pengembangan budidaya ikan dan udang. Kami mengamati di pantai Kecamatan Mauk didaerah tersebut sudah tidak ada hutan mangrove dan berganti dengan tambak ikan, pembukaan tambak yang sangat berhimpit dengan garis pantai inilah yang paling besar menimbulkan abrasi pantai, ketika gelombang laut menghantam, pembatas antara tambak dan garis pantai sangat berpotensi rusak mengingat pembatas tersebut hanya tanah berpasir dan sedikit batuan. Pada saat pembatas ini hilang maka tambak akan bergabung dengan lautan sehingga daratan berkurang dengan begitu cepat dan menyapu luasan yang besar pula. Keadaan ini pula yang menimpa garis pantai di Desa Kronjo Kecamatan Kronjo, kami mengamati tambak yang sudah menyatu dengan lautan, sekitar 3 tahun yang lalu daerah itu memang merupakan hutan mangrove dan tambak yang relatif jauh dengan bibir pantai, namun karena tempat tersebut merupakan kawasan wisata, hutan mangrove beralih fungsi menjadi pembangunan rumah dan warung, karena terus menerus diterjang gelombang air laut yang dipicu oleh angin dan lalu lintas kapal nelayan, mengakibatkan rumah dan warung tersebut hancur dan semakin menipiskan batas antara laut dan tambak, dan kini batas itu sudah tenggelam dan menjadi lautan dangkal.

Berbeda dengan kawasan wisata di Pantai Sanglira Karangserang, profil batuan pantai didaerah ini lebih lunak karena lebih didominasi oleh tanah liat sehingga sangat mudah diterjang ombak, ditambah dengan vegetasi mangrove yang jarang dan penambangan pasir liar yang dilakukan warga setempat menambah dampak parah terhadap abrasi pantai.

Pencegahan dan penanggulangan abrasi telah dilakukan oleh pemda setempat misalnya di Pantai Kronjo telah dilakukan dengan menanam pohon bakau disepanjang pantai dan muara sungai namun hasilnya tidak maksimal karena tidak serius dalam perawatan, kami melihat banyak bibit pohon mangrove dibiarkan begitu saja.

Kesimpulan

Kami menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan dan analisis bahwa tingkat abrasi pantai di Pantai Kabupaten Tangerang dan Pulau Cangkir sudah sangat parah, abrasi tersebut dikarenakan hantaman gelombang dan akibat kerusakan vegetasi mangrove, pembukaan tambak ikan dan udang, serta penambangan pasir secara liar.

Referensi

http://jalanasik.com/index.php?option=com_content&task=view&id=344&Itemid=36

http://tangerangutararaya.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

www.arsip.net/id/link.php?lh=AgRQAgEKAFRT

www.arsip.net/id/link.php?lh=BwQFDwYGVwRS

www.pelita.or.id/baca.php?id=83339

Revolusi Sains

Posted: 21 Mei, 2009 in PENDIDIKAN

School Myspace Comments

A. Deskripsi Paradigma, Anomali dan Revolusi Sains

Paradigma dan Normal Science

Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa sains normal, di mana ilmuwan berkesempatan mengembangkan secara rinci dan mendalam, karena tidak sibuk dengan hal-hal yang mendasar. Dalam tahap ini ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiahnya, dan selama menjalankan riset ini ilmuwan bisa menjumpai berbagai fenomena yang disebut anomali. Jika anomali ini kian menumpuk, maka bisa timbul krisis. Dalam krisis inilah paradigma mulai dipertanyakan. Dengan demikian sang ilmuwan sudah keluar dari sains normal. Untuk mengatasi krisis, ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau mengembangkan sesuatu paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi ilmiah.

Dari sini nampak bahwa paradigma pada saat pertama kali muncul itu sifatnya masih sangat terbatas, baik dalam cakupan maupun ketepatannya. Paradigma memperoleh statusnya karena lebih berhasil dari pada saingannya dalam memecahkan masalah yang mulai diakui oleh kelompok praktisi bahwa masalah-masalah itu rawan.

Keberhasilan sebuah paradigma semisal analisis Aristoteles mengenai gerak, atau perhitungan Ptolemaeus tentang kedudukan planet, atau yang lainnya. Pada mulanya sebagian besar adalah janji akan keberhasilan yang dapat ditemukan contoh-contoh pilihan dan yang belum lengkap. Dan ini sifatnya masih terbatas serta ketepatannya masih dipertanyakan. Dalam perkembangan selanjutnya, secara dramatis, ketidak berhasilan teori Ptolemaeus betul-betul terungkap ketika muncul paradigma baru dari Copernicus.

Contoh lain tentang hal ini, misalnya bisa dilihat pada bidang fisika yang berkenaan dengan teori cahaya. Mula-mula cahaya dinyatakan sebagai foton, yaitu maujud mekanis kuantum yang memperlihatkan beberapa karakteristik gelombang dan beberapa karakteristik partikel. Teori ini menjadi landasan riset selanjutnya yang hanya berumur setengah abad dan berakhir ketika muncul teori baru dari Newton yang mengajarkan bahwa cahaya adalah partikel yang sangat halus. Teori inipun sempat diterima oleh hampir semua praktisi sains optika, kemudian muncul teori baru yang bisa dikatakan lebih “unggul” yang digagas oleh Young dan Fresnel pada awal abad XIX yang selanjutnya dikembangkan oleh Planck dan Einstein, yaitu bahwa cahaya adalah gerakan gelombang tranversal.

Transformasi-transformasi paradigma semacam ini adalah revolusi sains, dan transisi yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui revolusi, adalah pola perkembangan yang biasa dari sains yang telah matang.

Anomali dan Munculnya Penemuan Baru

Data anomali berperan besar dalam memunculkan sebuah penemuan baru yang diawali dengan kegiatan ilmiah. Dalam hal ini Kuhn menguraikan dua macam kegiatan ilmiah, puzzle solving dan penemuan paradigma baru

Dalam puzzle solving, para ilmuwan membuat percobaan dan mengadakan observasi yang bertujuan untuk memecahkan teka-teki, bukan mencari kebenaran. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan. Dengan demikian kegiatan ilmiah selanjutnya diarahkan kepada penemuan paradigma baru, dan jika penemuan baru ini berhasil, maka akan terjadi perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.

Penemuan baru bukanlah peristiwa-peristiwa yang tersaing, melainkan episode-episode yang diperluas dengan struktur yang berulang secara teratur. Penemuan diawali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara, telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal. Kemudian ia berlanjut dengan eksplorasi yang sedikit banyak diperluas pada wilayah anomali. Dan ia hanya berakhir bila teori atau paradigma itu telah disesuaikan sehingga yang menyimpang itu menjadi sesuai dengan yang diharapkan. Jadi yang jelas, dalam penemuan baru harus ada penyesuaian antara fakta dengan teori yang baru.

Revolusi Sains: Permasalahan dan Keutamaannya

Sebagaimana telah diketahui, revolusi sains muncul karena adanya anomali dalam riset ilmiah yang dirasakan semakin parah, dan munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma yang dijadikan referensi riset.

Revolusi sains di sini dianggap sebagai episode perkembangan non-kumulatif yang di dalamnya paradigma yang lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang bertentangan.
Adanya revolusi sains bukan merupakan hal yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sebagian ilmuwan atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru. Dan ini menimbulkan masalah sendiri yang memerlukan pemilihan dan legitimasi paradigma yang lebih definitif.

Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika, tetapi juga teknik-teknik argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena itu permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains, hanyalah sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan akademisi dan atau masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka revolusi sains kian dapat terwujud.

Selama revolusi, para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda dengan ketika menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenal untuk melihat tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba dipindahkan ke daerah lain di mana obyek-obyek yang sangat dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan obyek-obyek yang tidak dikenal.

Kalaupun ada ilmuwan yang tidak mau menerima paradigma baru sebagai landasan risetnya, dan ia tetap bertahan pada paradigma yang telah dibongkar dan sudah tidak mendapat dukungan lagi dari mayoritas masyarakat sains, maka aktivitas-aktivitas risetnya hanya merupakan tautologi, yang tidak berguna sama sekali.

B. Perubahan paradigma pada Teori Asal-usul Adanya Kehidupan (Abiogenesis-Biogenesis)

Paradigma Awal
paradigma pada saat pertama kali muncul itu sifatnya masih sangat terbatas, baik dalam cakupan maupun ketepatannya. Paradigma memperoleh statusnya karena lebih berhasil dari pada saingannya dalam memecahkan masalah yang mulai diakui oleh kelompok praktisi bahwa masalah-masalah itu rawan. Pada teori abiogenesis yang diungkapkan oleh Aristoteles dianggap sebagai paradigma karena saat itu ada sebagian ilmuan yang memang mendukung Teori Abiosgebesis.
Tokoh teori Abiogenesis adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari benda mati.

Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.

Bagaimana cara terbentuknya makhluk tersebut ? Menurut pengzanut paham abiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan. Oleh sebab itu, paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generation spontaneae.

Jadi, kalau pengertian abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan, mak pendapat paham tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya :

a. ikan dan katak berasal dari Lumpur.
b. Cacing berasal dari tanah, dan
c. Belatung berasal dari daging yang membusuk.

Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17.
Pada pertengahan abad ke-17, Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka tentang kevalaidan teori Abiogenesis. Pendukung lainnya yaitu Jhon Needham (kehidupan berasal dari kaldu), Van Helment (tikus berasal dari biji dan karung)

Anomali

Perkembangan sains yang terus berlangsung para ilmuan berusaha untuk memperoleh Normal Sains dari teori Abiogenesis tersebut yang sempat bertahan berabad-abad. Namun pada perkembangannya sebagian Ilmuan tidak merasa puas dan meragagukan kevalidan teori abiogenesis dan untuk menghilangkan keraguan tersebut sebagian ilmuan membuat percoban sendiri seperti Francesco Redi (Italia, 1626-1799) dan Lazzaro Spallanzani ( Italia, 1729-1799). Pada percobaan tersebut mempunyai hasil yang beebeda (melanggar) teori yang telah ada. Berikut percobaan yang dilakukan Francesco Redi dan Lazzaro Spallanzani.

a) Percobaan Francesco Redi ( 1626-1697)

Untuk menjawab keragu-raguannya terhadap paham abiogenesis, Francesco Redi mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga kerat daging dan tiga toples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut :

Stoples I : diisi dengan sekerat daging, ditutup rapat-rapat.
Stoples II :diisi dengan sekerat daging, dan dibiarkan tetap terbuka.
Stoples III : disi dengan sekerat daging, dibiarkan tetap terbuka.

Selanjutnya ketiga stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati.
Danhasilnya sebagai berikut:

Stoples I : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan jentik / larva atau belatung lalat.
Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva atau belatung lalat.

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.

b) percobaan Lazzaro Spallanzani ( 1729-1799)

Seperti halnya Francesco Redi, Spallanzani juga menyangsikan kebenaran paham abiogeensis. Oleh karena itu, dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna.
Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu. Adapun percoban yang yang dilakukan Spallanzani selengkapnya adalah sebagai berikut :

Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar.

Selanjutnya, labu dipanaskan.selanjutnay, labu I dan II didinginkan. Setelah dingin keduanya diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.

Hasil percobaannya adalah sebagai berikut :

Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula, baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba. Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba darimudara ke dalam air kaldu tersebut

K r i s i s

Pada masa ini banyak penemuan-penemuan yang mendukung bahwa kehidupan berasal dari benda hidup dan bukan berasal dari benda mati atau air kaldu. Misalnya pada percobaan oleh Lazzaro Spallanjani bahwa mikroba yang berasal dari air kaldu berasal dari kehidupan yang terkandung dalam udara (mikroba yang terbawa udara), itu berarti berlawanan dengan pendapat Jhon Needham (kehidupan dari air kaldu). Karena pendukung Spallanjani mempunyai validitas yang lebih tinggi. Terlebih Pasteur melakukan percobaan yang menolak kehidupan berasal dari benda mati.

Paradigma Pertama mulai diragukan oleh masyarakat ilmiah namun pada saat tersebut belum temukan Paradigma baru. Paradigma baru belum ada karena pendukung teori abiogenesis masih tetap mempertahankan pendapatnya, kita tahu bahwa paradigm terjadi jika sebagian besar orang sepakat tentang kevalidan suatu teori. Namun saat itu Pendukung teori menyangsikan hasil temuan spallanjani. Pendukung Abiogenesis berpendapat bahwa untuk terjadinya mikroba (makhluk hidup) maka dibutuhkan udara. Dengan pengaruh udara tersebut terjadilah generation spontae. Pertentangan dari kedua pemahaman inilah yang disebut krisis.

Percobaan Louis Pasteur (1822-1895)

Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu. Langkah-langkah percobaan Pasteur selengkapnya adalah sebagai berikut :

Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
Langkah III : labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu didalam labu meanjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.

Melaui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.

Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.

Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepern\mukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori itu menyatakan :

a. omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
b. Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
c. Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.

Walaupun Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan paham Abiogenesis atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham Biogenesis, belum berarti bahwa masalah bagaimana terbentuknya makhluk hidup yang pertama kali terjawab.

Disamping teori Abiogenesis dan Biogenesis, masih ada lagi beberapa teori tentang asal usul kehidupan yang dikembangkan pleh beberapa Ilmuwan, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Teori kreasi khas, yang menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh zat supranatural (Ghaib) pada saat yang istimewa.
b. Teori Kosmozoan, yang menyatakan bahwa kehidupan yang ada di planet ini berasal dari mana saja.
c. Teori Evolusi Kimia, yang menyatakan bahwa kehidupan didunia ini muncul berdasarkan hukum Fisika Kimia.
Teori Keadaan Mantap, menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal usul.

Revolusi dan Paradigma Baru

Untuk mengatasi dari krisis yang berkepanjangan tersebut, para ilmuan kembali mencari kevalidan. Ilmuan yang tidak mendapat kepuasan baik pemahaman kehidupan dari benda mati ataupun dari mahluk hidup. Ilmuan mencari kevalidan tersebut dengan menggunakan cara-cara lama dan mengembangkan paradigma yang menjadi tandingannya. Dan berupaya memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Ilmuan yang menggunakan cara ini yaitu Harold Urey, Stanley Miller, dan Oparin. Dengan hasil temuannya dapat suatu kesimpulan bahwa Kehidupan berasal dari benda hidup (makhluk hidup) bersel satu yang berkembang menjadi makhluk hidup yang lebih kompleks (evolusi biologi), dan mahluk bersel satu tersebut terbentuk oleh evolusi kimia. Unsure-unsur yang terkandung dalam makhluk hidup (bahan organic; asam amino, lipid, dll) persis sama dengan apa yang terdapat dialam yang telah mengalami evolusi kimia. Pendapat evolusi kimia ini banyak pendukungnya karena lebih logis dan dpat diuji secara eksperimental. Pada masa ini terjadi revolusi, paham yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda mati (kaldu, jerami, dll) kevalidan sudah berkurang dan banyak ilmuan lebih menyetujui bahwa kehidupan berasal dari benda hidup. Oleh karena itulah paradigma pertama telah berubah menjadi paradigma baru. Paradigma baru. Namun Paradigma baru yang telah disepakati adakalanya ada pertantangan, namun jika ada yang tidak mau menerima paradigma baru ini sebagai landasan risetnya dan tetap mempertahankan paradigma lama maka aktifitas risetnya hanya merupakan tautology yang tidak berguna.
Berikut ini pendapat dan penemuan ilmuan yang menambah kevalidan teori abiogenesis mulai ditinggalkan.

Teori Evolusi Kimia Menurut Harold Urey (1893)

Harold Urey adalah ahli Kimia berkebangsaan Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa pada suatu saat atmosfer bumi kaya akan molekul zat seperti Metana (CH4), Uap air (H2O), Amonia(NH2), dan karbon dioksida (CO2) yang semuanya berbentuk uap. Karena adanya pengaruh energi radiasi sinar kiosmis serta aliran listrik halilintar terjadilah reaksi diantara zat-zat tersebut menghasilkan zat-zat hidup. Teori evolusi Kimia dari Urey tersebut biasa dikenal dengan teori Urey.

Menurut Urey, zat hidup yang pertama kali terbentuk mempunyai susunan menyerupai virus saat ini. Zat hidup tersebut selama berjuta-juta tahun mengalami perkembangan menjadi berbagai jenis makhluk hidup. Menurut Urey, terbentuknya makhluk hidup dari berbagai molekul zat di atmosfer tersebut didukung kondisi sebagai berikut :

a) kondisi 1 : tersedianya molekul-molekul Metana, Amonia, Uap air, dan hydrogen yang sangat banyak di atmosfer bumi
b) kondisi 2 : adanya bantuan energi yang timbul dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis yang menyebabkan zat-zat tersebut bereaksi membentuk molekul zat yang lebih besar,
c) kondisi 3 : terbentuknya zat hidup yang paling secerhana yang susunan kimianay dapat disamakan dengan susunan kimia virus, dan
d) kondisi 4 : dalam jangka waktu yang lama (berjuta-juta tahun), zat idup yang terbentuk tadi berkembang menjadi seejnis organisme (makhluk hidup yang lebih kompleks).

Eksperimen Stanley Miller

Miller adalah murid Harold Urey yang juga tertarik terhadap masalah asal usul kehidupan. Didasarkan informasi tentang keadaan planet bumi saat awal terbentuknya, yakni tentang keadaan suhu, gas-gas yang terdapat pada atmosfer waktu itu, dia mendesain model alat laboratorium sederhana yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis Harold Urey.

Kedalam alat yang diciptakannya, Miller memasukan gas Hidrogen, Metana, Amonia, dan Air. Alat tersebut juaga dipanasi selama seminggu, sehingga gas-gas tersebut dapat bercampur didalamnya. Sebagai pengganti energi aliran listrik halilintar, Miller mengaliri perangkat alat tersebut dengan loncatan listrik bertegangan tinggi. Adanya aliran listrik bertegangan tinggi tersebut menyebabkan gas-gas dalam alat Miller bereaksi membentuk suatu zat baru. Kedalam perangkat juga dilakukan pendingin, sehingga gas-gas hasil reaksi dapat mengembun.

Pada akhir minggu, hasil pemeriksaan terhadap air yang tertampung dalam perangkap embun dianalisis secar kosmografi. Ternyata air tersebut mengandung senyawa organic sederhana, seperti asam amino, adenine, dan gula sederhana seperti ribose. Eksperimen Miller ini dicoba beberapa pakar lain, ternyata hasilnya sama. Bial dalam perangkat eksperimen tersebut dimasukkan senyawa fosfat, ternyata zat-zat yang dihasilkan mengandung ATP, yakni suatu senyawa yang berkaitan dengan transfer energi dalam kehidupan. Lembaga cpenelitian lain, dalam penelitiannya menghasilkan senyawa-senyawa nukleotida.

Nukleotida adalah suatu senyawa penyusun utama ADN (Asam Deoksiribose Nukleat) dan ARN (Asam Ribose Nukleat), yaitu senaywa khas dalam inti sel yang mengendalikan aktivitas sel dan pewarisan sifat.

Eksperimen Miller dapat memberiakn petunjuk bahwa satuan- satuan kompleks didalam sistem kehidupan seperti Lipida, Karbohidrat, Asam Amino, Protein, Mukleotida dan lain-lainnya dapat terbentuk dalam kondisi abiotik. Teori yang terus berulang kali diuji ini diterima para ilmuwan secara luas. Namun, hingga kini masalah utama tentang asal-usul kehidupan tetap merupakan rahasia alam yang belum terjawab. Hasil yang mereka buktikan barulah mengetahui terbentuknya senyawa organik secara bertahap, yakni dimulai dari bereaksinya gas-gas diatmosfer purba dengan energi listrik halilintar. Selanjutnay semua senyawa tersebut bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks dan terkurung dilautan. Akhirnay membentuk senyawa yang merupakan komponen sel.

TEORI EVOLUSI BIOLOGI

Alexander Oparin adalah Ilmuwan Rusia. Didalam bukunya yang berjudul The Origin of Life(Asal Usul Kehidupan). Oparin menyatakan bahwa paad suatu ketika atmosfer bumi kaya akan senyawa uap air, CO2, CH4, NH3, dan Hidrogen. Karena adanya energi radiasi benda-benda angkasa yang amat kaut, seperti sinar Ultraviolet, memungkinkan senyawa-senyawa sederhana tersebut membentuk senyawa organik atau senyawa hidrokarbon yang lebih kompleks. Proses reaksi tersebut berlangsung dilautan.

Senyawa kompleks yang mula-mula terbentuk diperkirakan senyawa aseperti Alkohol (H2H5OH), dan senyawa asam amino yang paling sederhana. Selama berjuta-juta tahun, senyawa sederhana tersebut bereaksi membenrtk senyawa yang lebih kompleks, Gliserin, Asam organik, Purin dan Pirimidin. Senyawa kompleks tersebut merupakan bahan pembentuk sel.

Menurut Oparin senyawa kompleks tersebut sangat berlimpah dilautan maupun di permukaan daratan. Adanya energi yang berlimpah, misalnya sinar Ultraviolet, dalam jangka waktu yang amat panjang memungkinkan lautan menjadi timbunan senyawa organik yang merupakan sop purba atau Sop Primordial.

Senyawa kompleks yang tertimbun membentuk sop purba di lautan tersebut selanjutnya berkembang sehingga memiliki kemampuan dan sifat sebagai berikut :
a) Memiliki sejenis membran yang mampu memisahkan ikatan-ikatan kompleks yang terbentuk dengan molekul-molekul organik yang terdapat disekelilingnya;
b) Memiliki kemampuan untuk menyerap dan mengeluarkan molekil-molekul dari dan ke sekelilingnya;
c) Memiliki kemampuan untuk memanfaatkan molekul-molekul yang diserap sesuai denagn pola-pola ikatan didalamnya;
d) Mempunyai kemampuan untuk memisahkan bagian-bagian dari ikatan-ikatannya. Kemampuan semacam ini oleh para ahli dianggap sebagai kemampuan untuk berkembang biak yang pertama kali.
Senyawa kompleks dengan sifat-sifat tersebut diduga sebagai kehidupan yang pertamakali terbentuk. Jadi senyawa kompleks yang merupakan perkembangan dari sop purba tersebut telah memiliki sifat-sifat hidup seperti nutrisi, ekskresi, mampu mengadan metabolisme, dan mempunayi kemampuan memperbanyak diri atau reproduksi.

Walaupun dengan adanya senyawa-senyawa sederhana serta energi yang berlimpah sehingga dilautan berlimpah senyawa organik yang lebih kompleks, namun Oparin mengalami kesulitan untuk menjelaskan mengenai mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai abenda tak hidup kebenda hidup. Bagaimana senyawa-senyawa organik sop purba tersebut dapat memiliki kemampuan seperti tersebut diatas ? Oparin menjelaskan sebagai berikut :

Protein sebagai senyawa yang bersifat Zwittwer Ion, dapat membentuk kompleks koloid hidrofil (menyerap air), sehingga molekul protein tersebut dibungkus oleh molekul air. Gumpalan senyawa kompleks tersebut dapat lepas dari cairan dimana dia berada dan membentuk emulsi. Penggabunagn struktur emulsi ini akan menghasilkan koloid yang terpiah dari fase cair dan membentuk timbuna gumpalan atau Koaservat.

Timbunan Koaservat yang kaya berbagai kompleks organik tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran substansi dengan lingkungannya. Di samping itu secara selektif gumpalan Koaservat tersebut memusatkan senyawa-senyawa lain kedalamnya terutama Kristaloid. Komposisi gumpalan koloid tersebut bergantung kepada komposisi mediumnay. Denagndemikian, perbedaan komposisi medium akan menyebabkan timbulnya variasi pada komposisi sop purba. Variasi komposisi sop purba diberbagai areal akan mengarah kepada terbentuknya komposisi kimia Koaservat yang merupakan penyedia bahan mentah untuk proses biokimia.

Tahap selanjutnya substansi didalam Koaservat membentuk enzim. Di sekeliling perbatasan antara Koaservat dengan lingkungannya terjadi penjajaran molekul-molekul Lipida dan protein sehingga terbentuklah selaput sel primitif. Terbentuknya selaput sel primitif ini memungkinkan memberikan stabilitas pada koaservat. Dengan demikian, kerjasama antara molekul-molekul yang telah ada sebelumnya yang dapat mereplikasi diri kedalam koaservat dan penagturan kembali Koaservat yang terbungkus lipida amat mungkin akan mnghasilkan sel primitif.

Kemampuan koaservat untuk menyerap zat-zat dari medium memungkinkan bertambah besarnya ukuran koaservat. Kemungkinan selanjutnya memungkinkan terbentuknya organisme Heterotropik yang mampu mereplikasi diri dan mendapatkan bahan makanan dari sop Primordial yang kaya akan zat-zat organik.

Teori evolusi biologi ini banyak diterima oleh paar Ilmuwan. Namun, tidak sedikit Ilmuwan yang membantah tentang interaksi molekul secara acak yang dapat menjadi awal terbentuknya organisme hidup.

Teori evolusi kimia dan teori evolusi biologi banyak pendukungnya, namun baru teori evolusi kimia yang telah dibuktikan secara eksperimental, sedangkan teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental.

C. Tafsiran Al-Quran atas Teori Abiogenesis dan Biogenesis

Al-Quran merupakan kumpulan pengetahuan yang memilki kebenaran yang mutlak. Pengetahuan dalam Al-Quran tidak diperoleh secara aktif melainkan secara pasif (wahyu). Maksud pasif disini yaitu pengetahuan yang telah diberikan oleh Tuhan dan bukan hasil pemikiran atau ciptaan manusia dengan metode tertentu. Agama yang yang memilki kesempurnaan pasti dapat menjawab suatu masalah. Dalam kaitan dengan teori Biogenesis, terdapat surat Ali Imran: 27 yang dapat menjelaskan peristiwa biogenesis dan sesuai dengan experimental teori evolusi kimia.

[3.27]. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).
Penggalan ayat ini mengisyaratkan tentang terbentuknya makhluk (zat) mati dari makhluk hidup dan sebaliknya zat yang tak bernyawa yang berasal dari makhluk hidup. Pertama, begitu mati atau binasa, makhluk hidup akan menjadi benda yang tak bisa bergerak sendiri, oleh sebab itu maka akan terbawa oleh kekuatan alam kemanapun apakah ke darat atau kelaut. Jenazah seorang manusia tentu punya tempatnya yang tersendiri yang aman paling tidak dari gangguan binatang. Akan tetapi jenazah manusia ini tidak terlepas dari proses pembusukan. Kerjasama antara proses organik, proses biologis (melibatkan makhluk hidup diantaranya bakteri pembusuk) dan proses anorganik, secara bersama-sama melibatkan proses kimia dan fisika, akan melakukan penguraian zat-zat yang terkandung dalam jenazah ini. Proses penguraian ini dikenal dengan pembusukan. Proses ini akan berlangsung secara terus menerus, sehingga semua bagian tubuh manusia itu terurai dan menyatu dengan tanah. Proses penguraian itu mulai dari cairan yang menguap, bagian daging dan jaringan yang terurai, sampai akhirnya kepada yang paling keras yaitu tulang belulang. Tulang inipun akan mengalami perubahan strukturnya. Perubahan struktur ini berlangsung secara rutin dan teratur sehingga dengan mengetahui struktur atomiknya bisa ditentukan usia tulang atau jenazah tersebut. Tapi akhirnya tulang inipun menjadi luruh menjadi tanah. Sehingga dalam Al-Qur`an dikenal dengan istilah manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Begitulah proses pembusukan atau penguraian bagian tubuh makhluk yang pernah hidup ini, menjadi bagian bagian yang kini menjadi benda mati. Dalam keadaan hidup, bakteri pembusuk itu tidak dapat membusukkan tubuh makhluk yang masih hidup karena akan ditolak oleh mekanisme kekebalan tubuh yang menjadi perisai bagi makhluk yang masih hidup. Proses yang serupa akan mengenai tubuh binatang dan tumbuhan yang sudah mati. Hingga pada akhirnya maka seluruh makhluk hidup atau mati akan binasa, hanya Allah Sang Khalik yang akan tetap kekal selama-lamanya. Jadi urutannya adalah makhluk hidup kemudian mati, terurai menjadi benda (materi) mati, dan akhirnya benda matipun akan hancur lebur pada Hari Kiamat kelak. Pada ayat ini digunakan kata ”dimasukkan” untuk siang ke dalam malam, tetapi dipakai kata ”dikeluarkan” untuk yang mati dari yang hidup dan sebaliknya, karena perubahan siang ke malam sifatnya temporer, lebih bersifat fisikawi, karena siang setelah berganti malam pada waktunya akan berubah kembali menjadi siang. Yang mati dikeluarkan dari yang mati dan sebaliknya bersifat irreversible karena yang mati (yang berasal dari yang hidup) itu setelah jadi yang mati tak akan bisa berubah kembali menjadi yang hidup.

Kedua, mahkluk hidup bisa mulai merekah tumbuh berkembang dari bahan yang mati (sesuai dengan evolusi kimia). Hasil eksperimen ini akhirnya menggugurkan Teori Abiogenesis dan Pasteur menjadi sangat terkenal dengan perkataannya Omne vivum ex vivo, omne ovum ex vivo (artinya kehidupan berasal dari telur dan telur dihasilkan makhluk hidup atau dapat juga diartikan makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga).

Ayat kauniah dalam edisi ini jelas menggariskan firman Allah subhanahu wata’ala bahwa makhluk hidup itu bisa berkembang dari makhluk hidup lainnya, seperti seorang induk (ibu) melahirkan anaknya, tetapi pada awalnya makhluk hidup tumbuh dari bahan mati, sama seperti manusia yang terbuat dari tanah, malaikat dari cahaya dan iblis dari api. Bagaimana manusia bisa terbuat dari tanah liat kering itu telah banyak ayat kauniah yang menjelaskannya secara gamblang dalam Al-Qur`an. Tetapi dalam kasus makhluk hidup yang pertama-tama menghirup kehidupan itu bukanlah dari jenis manusia (homo sapiens). Sebagai makhluk yang paling sempurna, yang paling cangih dan lengkap, maka dengan sendirinya manusia lahir paling terakhir, dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang lebih sederhana. Setelah lingkungan fisiknya memungkinkan, maka makhluk hidup yang paling sederhana berbentuk mikro-organisme lahir dan beranak pinak. Walaupun tidak harus mengikuti teori evolusi, manusia sebagai makhluk yang paling sempurna datang paling belakang, setelah keadaan lingkungan fisik dan biologisnya memungkinkan kenyamanan makhluk yang akan jadi khalifah di muka bumi ini.

Cerita Lucu

Posted: 19 Februari, 2009 in HIBURAN

Funny Myspace Comments

MyNiceSpace.com

___ Tidak punya Otak ___

Di suatu kota B yang terkenal dgn sopirnya yang laju-laju, terjadi suatu kecelakaan antara taksi dengan sebuah mobil. kecelakaan sangat parah, sampai2 penumpang taksi itu mengalami gegar otak, herannya sopir taksi itu, tidak mengalami gegar otak. Walaupun dilihat dari kondisinya sang sopir sangat parah. Para dokter sudah memeriksa dengan teliti namun tetap menyatakan bahwa sang sopir tidak mengalami gegar otak. Akhirnya sopir itu dirongsen dan dilihat hasilnya, dikepala sopir itu hanya ada ruang kosong di tempurung otaknya.Belajar Menghitung PersamaanNote :Coba hitung dulu…Kalau menyerah, baru lihat jawaban. Ini beneran lho!Begini:Jika sekarang ibunya 21 tahun lebih tua dari anaknya.6 tahun kemudian, umur ibunya 5 kali lipat umuranaknya.Pertanyaannya :Bapaknya sekarang ada dimana ?Sekali lagi, ini serius !Silahkan Anda berpikir dan menjawab secara ilmiah/matematis.Kalau menyerah atau sudah menjawab, silahkan cek jawaban anda dengan jawaban yang benar di bawah ini.Sekarang ibunya (M) 21 tahun lebih tua dari anaknya (A).M = A + 216 tahun ke depan umur ibunya jadi 5 kali lipat umur anakM + 6 = (A + 6) x 5A + 21 + 6 = (A + 6) x 5A + 27 = 5A + 3027 – 30 = 5A – A-3 = 4AA = -3/4Berarti umur anaknya sekarang – 3/4 thn or – 9 bulanBerarti anaknya sekarang belum lahir (lahir 9 bln kemudKesimpulannya sekarang Bapaknya ada di…..atas ibunya…HEHE……

__ Gajah dan Kera __

Disebuah hutan yang jauh dari keramaian kota. Ada seekor gajah betina sedang asyik menikmati makan siangnya dibawah sebuah pohon kelapa.Ketika sedang enaknya melahap daun muda dari pepohan sekitar pohon kelapa tersebut, datanglah seekor kera jantan. Kera jantan itu langsung berfikir : “Enak/enggak ya besetubuh dengan yang lebih besar ?”Diam-diam dihampiri dan langsung disetubuhi gajah tersebut layaknya seekor kera jantan yang perkasa.
Diluar dugaan gajah tersebut mengerang kesakitan, sambil teriak-teriak. Dan sepe dengan PD-nya si kera berkata : ” Sakit ya yang…..sakit ya yang sabar ya….”Dalam hati si kera : “Ehm Gajah sama gue aja udeh ngerang kesakitan.”Eh. ternyata si kera GR banget.. Si gajah teriak kesakitan karena, pada saat sikera mengendap-edap mendekati sang gajah, sang kera menginjak sarang semut yang berakibat kaki si gajah dikerumuti semut. Karena geli tanpa sadar belalai nya terkena pohon kelapa dan salah satu buahnya jdan jatuh kena kepala sang gajah.

___ Penunggu Sumur Tua ___

Pada suatu ketika di Jepang hiduplah seorang lelaki yang sederhana, namanya Oda. Ia memiliki seorang isteri yang sangat cantik dan sangat disayanginya.
Namun sang isteri mempunyai kebiasaan buruk, yaitu tiap kali diajak bicara pasti akan keterusan alias teramat sangat cerewet sekali.

Selain itu sang isteri tersebut juga suka mengumpat dengan kata-kata yang keras dan memekakkan telinga sehingga orang-orang tidak mau dekat-dekat dengannya. Sebenarnya, Oda sangat menyayangi isterinya itu, tapi para tetangganya yang merasa terganggu lambat laun berani juga mengadu pada Oda perihal isterinya itu.

Akhirnya Oda pun termakan kata-kata tetangganya. Ia berpikir bagaimana melenyapkan isterinya dari muka bumi.

Suatu ketika Oda mengajak isterinya berjalan-jalan ke kuil tua di tengah hutan. ketika melewati bagian belakang kuil yang sudah rusak, Oda melihat sebuah sumur tua yang tak digunakan lagi. Maka ia berpura-pura mengajak isterinya melihat burung di pohon besar dekat sumur itu. Lantas dengan tiba-tiba Oda mendorong isterinya itu masuk ke sumur.

Pada lima menit pertama Oda merasa sangat bahagia karena sepanjang hidupnya baru kali ini ia merasakan suasana yang begitu tenang tanpa celoteh isterinya.

Lima menit kedua, Oda mulai merasa sepi juga karena tidak terbiasa dengan kesunyian.

Akhirnya lima menit ketiga dengan keragu-raguan Oda kembali menuju sumur angker tersebut. Ia menurunkan tali timba dan berteriak menyuruh istrinya naik.

Begitu terkejutnya Oda ketika yang naik bukan istrinya melainkan sesosok makhluk menyeramkan dengan bulu lebat di sekujur tubuhnya, dialah makhluk penunggu Sumur tua itu.

Oda lantas bertanya, “Lho, kenapa kamu yang naik??”

Lantas makhluk itupun dengan wajah pucat ketakutan menjawab, “Aku takut, di bawah ada orang cerewet sekali………”

buka-bukaan yuks..

Posted: 13 September, 2008 in Tak Berkategori

Eh, maaf judulnya salah sorry harusnya “Buka Bareng Yuks” maklumlah semangat anak mudasemangat. Kalo ikut pelatihan BLOG sampe sore kayaknya enakhe... buka bersama sama temen2 wih! peseta latihan BLOG.

Bikin Blog, asik lah…

Posted: 13 September, 2008 in PENDIDIKAN
Tag:
Kata pak ustadz Hariri sih, bulan puasa itu harus diisi dengan ibadah, atau ngisi hari ama hal-hal yang berguna gitu. Nah, karena itu gw ikut pelatihan BLOG yang diadain oleh ICT MERDEKA, yaa itung-itung ngabuburit, moga aja termasuk ibadah ya. Amien>>> (doain ya…)

Asik nih ikut pelatihan, biar ga gaptek….. kalo ada pelatihan lagi ikut ach…. Banyak manfaat mengikuti pelatihan ini loh, selain buat narziz2-an juga buat media menggali informasi dan komunikasi.

Tapi gw kasih saran, gunakan media untuk kebajikan ya, jangan buat yang aneh-aneh yang bisa ngerugi-in lo dan orang lain. Kata ustadz Hariri juga gak boleh!